English
English
Vietnam
Thailand

Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengusulkan aturan lebih tegas terhadap pemain yang menutup mulut saat berbicara dalam situasi konfrontasi di lapangan. Ia menilai gestur tersebut patut dicurigai sebagai upaya menyembunyikan ucapan yang tidak pantas, termasuk potensi komentar rasis. Gagasan ini mencuat setelah insiden di Liga Champions yang melibatkan pemain Benfica dan Real Madrid, yang berujung pada sanksi sementara dari UEFA sembari menunggu proses investigasi lebih lanjut.
Menurut Infantino, sepak bola perlu mengambil langkah pencegahan yang kuat untuk menciptakan efek jera. Ia berpandangan bahwa tindakan menutup mulut saat berbicara dalam momen panas pertandingan seharusnya memicu asumsi negatif karena dilakukan untuk menghindari sorotan. Meski demikian, ia tetap menegaskan bahwa setiap kasus harus ditangani melalui mekanisme resmi oleh otoritas disiplin yang berwenang agar keputusan tetap adil dan berdasarkan bukti.
Isu ini telah menjadi bahan pembahasan dalam pertemuan tahunan International Football Association Board di Wales. Walaupun belum ada keputusan final, para pemangku kepentingan sepakat untuk melakukan konsultasi lebih luas guna merumuskan langkah konkret yang dapat mencegah pemain menyamarkan ucapan mereka di lapangan. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat komitmen sepak bola global dalam memerangi perilaku diskriminatif.
Sekretaris Jenderal FIFA menyebut kemungkinan adanya keputusan sebelum Piala Dunia musim panas mendatang apabila pembahasan berjalan lancar. Di sisi lain, perwakilan Asosiasi Sepak Bola Inggris menilai perlunya kajian mendalam agar perubahan regulasi tidak menimbulkan persoalan baru dalam penerapannya. Jika disetujui dalam Kongres FIFA di Vancouver pada akhir April, aturan baru itu berpotensi diterapkan sebelum turnamen besar berikutnya digelar.